hfscsite.org -Pernahkah Anda melihat skenario ini di media sosial? Seseorang memberanikan diri bercerita tentang perjuangannya melawan depresi atau kecemasan, lalu di kolom komentar muncul kalimat klise: “Ah, kamu itu cuma kurang bersyukur. Coba perbanyak ibadah, pasti sembuh.” Sekilas, komentar itu terdengar seperti nasihat bijak. Namun, bagi mereka yang sedang bertarung dengan pikiran sendiri, kalimat itu setajam sembilu.
Di Indonesia, spiritualitas memang menjadi pondasi kehidupan yang kuat. Sayangnya, hal ini sering kali menjadi pedang bermata dua ketika disandingkan dengan isu kejiwaan. Masih banyak anggapan bahwa gangguan mental adalah murni masalah spiritual—akibat dosa, kurang iman, atau gangguan jin. Padahal, realitas medisnya jauh lebih kompleks dari sekadar lupa menggelar sajadah.
Saatnya kita membuka mata dan hati lebih lebar. Narasi yang menyudutkan penderita gangguan jiwa (ODGJ) dengan label agama bukan hanya tidak membantu, tapi juga berbahaya. Mari kita bahas secara mendalam mengapa isu Kesehatan Mental: Akhiri Stigma “Kurang Iman” pada ODGJ adalah langkah krusial yang harus kita ambil bersama hari ini.
Otak Hanyalah Organ, Bisa Sakit Seperti Lambung
Mari kita berpikir logis sejenak. Jika teman Anda mengeluh sakit maag atau diabetes, apakah respons pertama Anda adalah menyuruhnya bertaubat? Kemungkinan besar tidak. Anda akan menyarankannya ke dokter atau menjaga pola makan. Lalu, mengapa perlakuan pada otak berbeda?
Otak adalah organ tubuh, sama seperti jantung atau ginjal. Ia terdiri dari struktur fisik dan zat kimia (neurotransmiter) seperti serotonin dan dopamin. Pada kasus gangguan mental seperti depresi mayor atau skizofrenia, terjadi ketidakseimbangan kimiawi atau gangguan fungsi pada organ ini.
Fakta Medis: Penelitian neurosains menunjukkan bahwa penderita depresi memiliki hippocampus (bagian otak yang mengatur memori dan emosi) yang lebih kecil. Ini adalah bukti fisik, bukan bukti tipisnya iman seseorang. Mengatakan ODGJ sembuh hanya dengan doa sama naifnya dengan berharap patah tulang menyambung sendiri tanpa digips.
Bahaya Toxic Spirituality: Niat Menghibur, Malah Menghancurkan
Istilah “kurang iman” sering kali menjadi bentuk gaslighting spiritual. Bayangkan Anda sedang tenggelam di kolam renang, lalu seseorang di tepi kolam berteriak, “Kamu tenggelam karena kamu tidak cukup percaya bisa bernapas!” Absurd, bukan?
Stigma ini menciptakan rasa bersalah yang luar biasa. ODGJ yang sudah merasa tidak berharga akibat depresinya, akan merasa semakin hancur karena dianggap gagal sebagai hamba Tuhan. Alih-alih mendapatkan ketenangan, mereka justru terisolasi.
Insight: Spiritual yang sehat seharusnya merangkul, bukan memukul. Jika nasihat agama membuat seseorang merasa lebih buruk atau ingin mengakhiri hidup karena merasa “pendosa besar”, maka ada yang salah dengan cara penyampaiannya.
Budaya “Pasung” vs Medis: Sejarah Kelam Penanganan ODGJ
Indonesia memiliki sejarah panjang dan agak kelam dalam menangani ODGJ. Dulu, dan sayangnya masih terjadi di beberapa pelosok, ODGJ dianggap “aib” atau kemasukan roh jahat. Solusinya? Dipasung atau dikurung di kamar belakang.
Data dari Kementerian Kesehatan (sebelum maraknya kampanye bebas pasung) menunjukkan ribuan ODGJ hidup dalam kondisi tidak manusiawi. Stigma “kurang iman” melanggengkan praktik ini. Keluarga malu membawa pasien ke psikiater karena takut dianggap tidak religius atau takut digunjing tetangga punya anak “gila”.
Analisis: Menormalisasi bantuan medis tidak berarti menihilkan peran agama. Justru, mencari pengobatan (ikhtiar) adalah bagian dari perintah agama itu sendiri. Datang ke psikolog adalah bentuk tanggung jawab merawat tubuh dan jiwa yang dititipkan Tuhan.
Ketika “Golden Period” Terlewatkan
Dalam dunia medis, ada istilah golden period atau masa emas penanganan. Semakin cepat gangguan mental didiagnosis dan diobati, semakin besar peluang pemulihannya.
Sayangnya, karena stigma Kesehatan Mental: Akhiri Stigma “Kurang Iman” pada ODGJ belum sepenuhnya tuntas, banyak pasien yang terlambat ditangani. Mereka menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk metode alternatif yang tidak teruji atau hanya didiamkan dengan harapan “setan”-nya pergi, padahal kondisi otak mereka semakin memburuk.
Tips: Jika kerabat menunjukkan perubahan perilaku drastis, halusinasi, atau penarikan diri sosial lebih dari dua minggu, segera konsultasikan ke profesional. Jangan menunggu “doa” bekerja sendirian; Tuhan bekerja melalui tangan-tangan medis juga.
Seni Mendengar Tanpa Menghakimi (Dan Tanpa Ceramah)
Bagaimana cara kita, sebagai orang awam, membantu? Kuncinya ada pada empati, bukan simpati, apalagi ceramah.
Saat seseorang curhat tentang kecemasannya, tahan keinginan untuk mengutip ayat kitab suci sebagai respons pertama. Dengarkan saja. Validasi perasaannya. Kalimat seperti, “Saya mengerti ini berat buatmu, saya ada di sini,” jauh lebih menyembuhkan daripada, “Makanya jangan lupa sholat.”
Fakta Psikologi: Active listening (mendengarkan secara aktif) dapat menurunkan level stres seseorang secara signifikan. Kehadiran fisik dan emosional Anda adalah obat pertolongan pertama yang paling ampuh.
Integrasi Iman dan Imun: Kolaborasi, Bukan Kompetisi
Apakah artikel ini melarang ODGJ untuk beribadah? Tentu tidak. Iman dan medis bukanlah musuh yang harus saling mengalahkan. Faktanya, banyak psikiater yang mengakui bahwa spiritualitas bisa menjadi coping mechanism (mekanisme pertahanan diri) yang sangat baik—tapi sebagai pendukung, bukan pengganti.
Pasien ODGJ yang stabil secara medis (dengan obat dan terapi) akan lebih mampu menjalankan ibadahnya dengan khusyuk. Sebaliknya, bagaimana mungkin seseorang bisa beribadah dengan tenang jika otaknya sedang dipenuhi suara-suara halusinasi atau badai kecemasan?
Mengintegrasikan keduanya adalah jalan tengah terbaik. Minum obat adalah ikhtiar fisik, doa adalah ikhtiar batin. Keduanya berjalan beriringan menuju kesembuhan.
Kesimpulan
Kesehatan mental adalah spektrum yang luas dan kompleks. Melabeli penderitaan seseorang dengan stempel “kurang iman” adalah tindakan yang simplistik dan tidak manusiawi. Kita tidak pernah tahu seberapa keras seseorang berjuang hanya untuk tetap hidup dan bangun dari tempat tidur setiap pagi.
Mari kita sepakat untuk mengubah narasi ini. Jadikan agama sebagai sumber harapan, bukan sumber penghakiman. Dukung kampanye Kesehatan Mental: Akhiri Stigma “Kurang Iman” pada ODGJ mulai dari lingkungan terdekat kita. Jika Anda tidak bisa menjadi psikolog bagi mereka, setidaknya jadilah teman yang tidak menghakimi. Karena terkadang, telinga yang mendengar lebih berharga daripada mulut yang menasihati.